Menurutmu apa yang akan
terjadi jika saudara berkelahi?
“Kakak! Bangun! Sudah
pagi lo!”
“Pagi Kimidori, jam
berapa sekarang?”
“Jangan malah melongo
begitu! Sudah jam delapan nih, aku bisa terlambat ke Kampus.”
“Ha? Hmm.. 10 menit
lagi..”
“Aduh kakak, jangan
malah tidur lagi dong!!!”
Namaku Kimidori,
Harusame Kimidori. Seorang laki-laki tampan berumur 20 tahun yang sampai
sekarang belum pernah pacaran. Menyedihkan ya? Tapi hal itu bukan karena aku
tidak tampan atau seleraku buruk. Jika kau meragukanku perhatikan ungkapan yang
kugunakan sebelumnya yaitu ‘tampan’
dan percayalah bahwa itu adalah kebenaran.
Kuakui memang aku tidak
terlalu populer dikalangan gadis-gadis, lagi pula itu tak menjadikanku sosok
yang dibenci oleh wanita bukan? Lagi pula aku ramah, dan aku juga tidak terlalu
sombong meskipun aku kaya. Semua kekacauan dalam hidupku disebabkan oleh satu
orang. Satu-satunya orang yang penting bagiku, dia adalah kakakku…. Tinggalkan
kisahku ini jika kalian tak tertarik pada kehidupan laki-laki tampan yang
tinggal seatap dengan seorang bersosok sempurna, yah setidaknya bagiku sosok
kakak yang selalu menjagaku adalah sosok yang sempurna.
“Pagi Kimi, kau
tetap cantik seperti biasanya ya.”
“Kak, jangan mengataiku
begitu! Aku laki-laki dan aku bukan istrimu. Ayo cepat kemari, aku suapin”
“Hahahaha, ya~~” dengan
nada datar.
Tiap pagi, salah satu
keseharianku yaitu membuat sarapan, membangunkan kakak, kemudian menyuapi
kakakku. Setelah itu baru aku pergi ke kampus untuk kuliah sepeti normalnya
kehidupan seorang remaja. Pengelihatan kakakku sangat buruk, mata kirinya sudah
hampir tidak bisa digunakan, sedangkan mata kanannya minus 11,00. Kalau mau
dibilang secara terang-terangan, kakakku hampir tidak bisa melihat apa-apa.
Walau matanya menjadi
masalah sosialnya, bakat alami kakakku adalah merebut gadis idamanku. Setiap
kali gadis yang aku taksir kuajak bermain kerumah, keesokan harinya mereka
pasti memberiku surat beramplop pink yang tidak diragukan lagi pasti ditujukan
untuk kakakku. Mereka selalu bilang kakakku lebih mendekati sosok gentleman
dari pada aku, dan tubuhnya yang tinggi tegap membuat dia semakin terlihat
keren.
Hal itu tentu
menggangguku. Sangat mengganggu, sampai terkadang aku ingin menjerit
sekeras-kerasnya “Dia Butaaaa!!!”. Tapi hal bodoh itu tidak pernah sekalipun
aku lakukan. Aku tidak bisa menyalahkan mereka, akupun mengagumi kakakku. Tapi
tetap saja, ketika gadis yang kau sukai lebih memilih kakakmu ketimbang dirimu,
tentu saja hatimu pasti bergejolak keras, kan?. Sampai beberapa saat kemudian
aku belum mengerti alasan sebenarnya dari sikapku selama ini. Sampai suatu hal
terjadi.
Memang awalnya aku
menerima semua kekesalanku begitu saja. Tetapi semakin lama, perasaan kesal itu
semakin bertumpuk dan seakan akan meledak jika tidak segera dikeluarkan. Kalian tahu kenapa? Karena kami kembar. Lahir
pada hari yang sama dan dari wanita yang sama. Tetapi kenapa perbedaan fisik kami
berbeda jauh?! Benar-benar suatu hal yang menjengkelkan.
Tidak hanya berhenti
disitu saja, kakakku sendiri juga memperlakukanku seperti anak kecil. Pernah
suatu ketika aku mengajak anak gadis yang kusuka kerumah, dia berkata
“Kimidori, ayahmu tampan ya. Kelihatan sangat maskulin”. Apa coba yang
difikirkannya ketika berkata seperti itu padaku. Sekejap aku marah dan semua
kemarahanku kulampiaskan pada gadis itu. Entah apa yang dikatakan kakak padanya
tetapi keesokan harinya dia menyapaku seperti kejadian kemarin tidak pernah ada.
Kutanyakan pada kakak apa yang dia perbuat pada gadis itu dan kakak hanya
menjawab, “Ha? Tidak ngapa-ngapain kok. Cuma kutraktir ice cream aja.”
Kakakku memang
menjengkelkan, tapi aku sayang padanya. Sejak kecil aku tidak pernah melihat
kedua orang tuaku. Karena sesaat setelah aku lahir didaerah kantou terjadi
gempa besar yang mengakibarkan rumah sakit tempat ibuku bersalin runtuh dan
hancur. Kakakku selamat karena dia berada didekat ayah ketika itu, tapi aku
tidak. Aku menghilang selama kurang lebih 10 tahun. Awalnya keluargaku percaya
bahwa aku sudah meninggal ketika gempa itu terjadi. Tapi paman Noa yang
bercerita padaku mengatakan bahwa kakak selalu menangis tiap malam dan bergumam
bahwa dia akan menjemputku ditengah musim semi pada tahun ketika terjadi hujan
abu.
Semua hal itu benar
terjadi. Pertama kali aku bertemu kakak adalah di penginapan Atsuyuki daerah
selatan Hachimantai. Aku bekerja sebagai penyambut tamu dan penyaji makan malam
tiap tahunnya. Aku memang anak angkat dari panti asuhan didaerah kantou barat,
tapi entah kenapa sebagai anak yang tidak memiliki orang tua, aku merasa seseorang
menjagaku kapanpun dan dimanapun aku berada.
Waktu itu, pertama
kalinya aku bertemu kakak, tetapi air mata yang menetes dari mataku tidak mau
berhenti. Hal itu juga terjadi pada kakak. Sekejap kemudian kakak mendekat
kearahku dan memanggil namaku “Kimidori”. Perasaan yang kurasakan saat itu
masih kuingat sampai sekarang. Perasaan rindu yang tidak tertahankan, seakan
belahan dirimu yang selama ini kau cari, kini telah kau temukan.
Keluarga besar Harusame
tidak berkata apa-apa ketika paman Noa membawaku kerumah keluarga utama. Hanya
kakak yang dipanggil untuk menghadap kakek. Awalnya aku tak menyangka bahwa
kedatanganku kedalam keluarga Harusame akan menimbulkan kericuhan besar. Untuk
ukuran anak sepuluh tahun, aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi
disekitarku. Kakak hanya tersenyum dan berkata, “Semua akan baik-baik saja”. Kakak
memang orang yang simple dan easy going, dan aku merasa nyaman dengan kakak
yang seperti itu. Setiap kali aku mengalami hal buruk, kakak akan ada dimanapun
dan kapanpun aku membutuhkannya.
Sudah pernah kukatakan
kan? Pengelihatan kakakku sangat buruk. Saking buruknya, pernah suatu ketika
teman kuliahku datang dan main kerumah, kakak menyapanya dan berkata,
“Kekasihmu cantik ya…” sambil tersenyum gembira. Terang saja aku marah, tau
kenapa? Teman yang kuajak kerumah adalah seorang anak laki-laki. Ok, aku tidak populer
dikalangan para gadis, tetapi kenapa harus dengan laki-laki sih!? Temanku hanya
tertawa, ketika mendengar suara temanku itu, kakak hanya tersenyum lalu berkata
lagi, “Loh, pacarmu laki-laki?” Tuh kan, kemudian kakak pergi meninggalkan aku
dan temanku diruang tengah. Entah apa maksudnya, tapi terkadang tingkah kakakku
membuat aku jengkel.
Pekerjaan kakak adalah
menjual cerita, dengan kata lain dia menulis novel. Tapi kalian tahu seperti
apa novel yang dibuat kakakku? Ceritanya selalu berpusat pada hubunga terlarang
antar saudara. Tidak perduli seperti apapun cerita yang dihasilkan kakakku,
banyak orang yang menyukai cerita itu. Pen name kakak adalah Bon, “Miyugata Bon”.
Percaya atau tidak, kehidupanku yang sekarang adalah hasil kerja kakakku
semata. Kami meninggalkan rumah keluarga besar Harusame ketika kami berumur 14
tahun. Dengan bantuan paman Noa pemilik salah satu Perusahaan Percetakan, kakak
menjadi penulis yang sangat populer. Kakak memang hobby menulis, tapi sayangnya
aku tidak pernah membaca karya yang ditulis kakak.
Walaupun menulis adalah
hobby kakakku, hal lain yang sering dia lakukan tiap pagi adalah memeriksa
kesehatanku. Sudah kah kuceritakan pada kalian tentang pengelihatan kakak?
Terkadang, cara kakak memeriksa kesehatanku membuatku perasaanku tidak karuan.
Dia selalu meraba wajahku kemudian dia akan mendekatkan wajahku pada wajahnya.
Entah kenapa dia selalu tahu perubahan yang terjadi padaku dan komentaranya juga
membuat perasaanku bercampur aduk.
“Wah, ganti model
rambut ya? Kamu manis lo kalau begini”. Itu yang selalu dikatakannya setiap
pagi sambil tersenyum. Ketika aku berkata, “Memangnya kakak bisa lihat? Kebiasaan
kakak memberi komentar bodoh pada adikmu ini, bisa-bisa orang yang mendengarnya
mengira kita sedang dalam dilema hubungan terlarang! Jadi kumohon berhentilah
menggunakan kata-kata yang tidak lazim dan gunakan kata-kata yang tidak
menimbulkan persepsi aneh untuk orang lain yang mendengarnya”. Dengan senyuman
kecilnya yang halus, Kakak akan menjawab dan membelai wajahku dengan tangannya yang besar dan hangat, “Karena kamu adikku yang paling manis, kakakmu ini tak kuasa menahan
kebahagiaan yang meruah, jadi maafkanlah kakak jika tindakan yang kakak lakukan
membuatmu risih”.






0 komentar:
Posting Komentar