Rabu, 25 November 2015

**Glimpse of the Glass .


Menurutmu apa yang akan terjadi jika saudara berkelahi?

“Kakak! Bangun! Sudah pagi lo!”

“Pagi Kimidori, jam berapa sekarang?”

“Jangan malah melongo begitu! Sudah jam delapan nih, aku bisa terlambat ke Kampus.”

“Ha? Hmm.. 10 menit lagi..”

“Aduh kakak, jangan malah tidur lagi dong!!!”

Namaku Kimidori, Harusame Kimidori. Seorang laki-laki tampan berumur 20 tahun yang sampai sekarang belum pernah pacaran. Menyedihkan ya? Tapi hal itu bukan karena aku tidak tampan atau seleraku buruk. Jika kau meragukanku perhatikan ungkapan yang kugunakan sebelumnya yaitu ‘tampan’ dan percayalah bahwa itu adalah kebenaran.

Kuakui memang aku tidak terlalu populer dikalangan gadis-gadis, lagi pula itu tak menjadikanku sosok yang dibenci oleh wanita bukan? Lagi pula aku ramah, dan aku juga tidak terlalu sombong meskipun aku kaya. Semua kekacauan dalam hidupku disebabkan oleh satu orang. Satu-satunya orang yang penting bagiku, dia adalah kakakku…. Tinggalkan kisahku ini jika kalian tak tertarik pada kehidupan laki-laki tampan yang tinggal seatap dengan seorang bersosok sempurna, yah setidaknya bagiku sosok kakak yang selalu menjagaku adalah sosok yang sempurna.

“Pagi Kimi, kau tetap cantik seperti biasanya ya.”

“Kak, jangan mengataiku begitu! Aku laki-laki dan aku bukan istrimu. Ayo cepat kemari, aku suapin”

“Hahahaha, ya~~” dengan nada datar.

Tiap pagi, salah satu keseharianku yaitu membuat sarapan, membangunkan kakak, kemudian menyuapi kakakku. Setelah itu baru aku pergi ke kampus untuk kuliah sepeti normalnya kehidupan seorang remaja. Pengelihatan kakakku sangat buruk, mata kirinya sudah hampir tidak bisa digunakan, sedangkan mata kanannya minus 11,00. Kalau mau dibilang secara terang-terangan, kakakku hampir tidak bisa melihat apa-apa.

Walau matanya menjadi masalah sosialnya, bakat alami kakakku adalah merebut gadis idamanku. Setiap kali gadis yang aku taksir kuajak bermain kerumah, keesokan harinya mereka pasti memberiku surat beramplop pink yang tidak diragukan lagi pasti ditujukan untuk kakakku. Mereka selalu bilang kakakku lebih mendekati sosok gentleman dari pada aku, dan tubuhnya yang tinggi tegap membuat dia semakin terlihat keren.

Hal itu tentu menggangguku. Sangat mengganggu, sampai terkadang aku ingin menjerit sekeras-kerasnya “Dia Butaaaa!!!”. Tapi hal bodoh itu tidak pernah sekalipun aku lakukan. Aku tidak bisa menyalahkan mereka, akupun mengagumi kakakku. Tapi tetap saja, ketika gadis yang kau sukai lebih memilih kakakmu ketimbang dirimu, tentu saja hatimu pasti bergejolak keras, kan?. Sampai beberapa saat kemudian aku belum mengerti alasan sebenarnya dari sikapku selama ini. Sampai suatu hal terjadi.

Memang awalnya aku menerima semua kekesalanku begitu saja. Tetapi semakin lama, perasaan kesal itu semakin bertumpuk dan seakan akan meledak jika tidak segera dikeluarkan.  Kalian tahu kenapa? Karena kami kembar. Lahir pada hari yang sama dan dari wanita yang sama. Tetapi kenapa perbedaan fisik kami berbeda jauh?! Benar-benar suatu hal yang menjengkelkan.

Tidak hanya berhenti disitu saja, kakakku sendiri juga memperlakukanku seperti anak kecil. Pernah suatu ketika aku mengajak anak gadis yang kusuka kerumah, dia berkata “Kimidori, ayahmu tampan ya. Kelihatan sangat maskulin”. Apa coba yang difikirkannya ketika berkata seperti itu padaku. Sekejap aku marah dan semua kemarahanku kulampiaskan pada gadis itu. Entah apa yang dikatakan kakak padanya tetapi keesokan harinya dia menyapaku seperti kejadian kemarin tidak pernah ada. Kutanyakan pada kakak apa yang dia perbuat pada gadis itu dan kakak hanya menjawab, “Ha? Tidak ngapa-ngapain kok. Cuma kutraktir ice cream aja.”

Kakakku memang menjengkelkan, tapi aku sayang padanya. Sejak kecil aku tidak pernah melihat kedua orang tuaku. Karena sesaat setelah aku lahir didaerah kantou terjadi gempa besar yang mengakibarkan rumah sakit tempat ibuku bersalin runtuh dan hancur. Kakakku selamat karena dia berada didekat ayah ketika itu, tapi aku tidak. Aku menghilang selama kurang lebih 10 tahun. Awalnya keluargaku percaya bahwa aku sudah meninggal ketika gempa itu terjadi. Tapi paman Noa yang bercerita padaku mengatakan bahwa kakak selalu menangis tiap malam dan bergumam bahwa dia akan menjemputku ditengah musim semi pada tahun ketika terjadi hujan abu.

Semua hal itu benar terjadi. Pertama kali aku bertemu kakak adalah di penginapan Atsuyuki daerah selatan Hachimantai. Aku bekerja sebagai penyambut tamu dan penyaji makan malam tiap tahunnya. Aku memang anak angkat dari panti asuhan didaerah kantou barat, tapi entah kenapa sebagai anak yang tidak memiliki orang tua, aku merasa seseorang menjagaku kapanpun dan dimanapun aku berada.

Waktu itu, pertama kalinya aku bertemu kakak, tetapi air mata yang menetes dari mataku tidak mau berhenti. Hal itu juga terjadi pada kakak. Sekejap kemudian kakak mendekat kearahku dan memanggil namaku “Kimidori”. Perasaan yang kurasakan saat itu masih kuingat sampai sekarang. Perasaan rindu yang tidak tertahankan, seakan belahan dirimu yang selama ini kau cari, kini telah kau temukan.

Keluarga besar Harusame tidak berkata apa-apa ketika paman Noa membawaku kerumah keluarga utama. Hanya kakak yang dipanggil untuk menghadap kakek. Awalnya aku tak menyangka bahwa kedatanganku kedalam keluarga Harusame akan menimbulkan kericuhan besar. Untuk ukuran anak sepuluh tahun, aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi disekitarku. Kakak hanya tersenyum dan berkata, “Semua akan baik-baik saja”. Kakak memang orang yang simple dan easy going, dan aku merasa nyaman dengan kakak yang seperti itu. Setiap kali aku mengalami hal buruk, kakak akan ada dimanapun dan kapanpun aku membutuhkannya.

Sudah pernah kukatakan kan? Pengelihatan kakakku sangat buruk. Saking buruknya, pernah suatu ketika teman kuliahku datang dan main kerumah, kakak menyapanya dan berkata, “Kekasihmu cantik ya…” sambil tersenyum gembira. Terang saja aku marah, tau kenapa? Teman yang kuajak kerumah adalah seorang anak laki-laki. Ok, aku tidak populer dikalangan para gadis, tetapi kenapa harus dengan laki-laki sih!? Temanku hanya tertawa, ketika mendengar suara temanku itu, kakak hanya tersenyum lalu berkata lagi, “Loh, pacarmu laki-laki?” Tuh kan, kemudian kakak pergi meninggalkan aku dan temanku diruang tengah. Entah apa maksudnya, tapi terkadang tingkah kakakku membuat aku jengkel.

Pekerjaan kakak adalah menjual cerita, dengan kata lain dia menulis novel. Tapi kalian tahu seperti apa novel yang dibuat kakakku? Ceritanya selalu berpusat pada hubunga terlarang antar saudara. Tidak perduli seperti apapun cerita yang dihasilkan kakakku, banyak orang yang menyukai cerita itu. Pen name kakak adalah Bon, “Miyugata Bon”. Percaya atau tidak, kehidupanku yang sekarang adalah hasil kerja kakakku semata. Kami meninggalkan rumah keluarga besar Harusame ketika kami berumur 14 tahun. Dengan bantuan paman Noa pemilik salah satu Perusahaan Percetakan, kakak menjadi penulis yang sangat populer. Kakak memang hobby menulis, tapi sayangnya aku tidak pernah membaca karya yang ditulis kakak.

Walaupun menulis adalah hobby kakakku, hal lain yang sering dia lakukan tiap pagi adalah memeriksa kesehatanku. Sudah kah kuceritakan pada kalian tentang pengelihatan kakak? Terkadang, cara kakak memeriksa kesehatanku membuatku perasaanku tidak karuan. Dia selalu meraba wajahku kemudian dia akan mendekatkan wajahku pada wajahnya. Entah kenapa dia selalu tahu perubahan yang terjadi padaku dan komentaranya juga membuat perasaanku bercampur aduk.


“Wah, ganti model rambut ya? Kamu manis lo kalau begini”. Itu yang selalu dikatakannya setiap pagi sambil tersenyum. Ketika aku berkata, “Memangnya kakak bisa lihat? Kebiasaan kakak memberi komentar bodoh pada adikmu ini, bisa-bisa orang yang mendengarnya mengira kita sedang dalam dilema hubungan terlarang! Jadi kumohon berhentilah menggunakan kata-kata yang tidak lazim dan gunakan kata-kata yang tidak menimbulkan persepsi aneh untuk orang lain yang mendengarnya”. Dengan senyuman kecilnya yang halus, Kakak akan menjawab dan membelai wajahku dengan tangannya yang besar dan hangat, “Karena kamu adikku yang paling manis, kakakmu ini tak kuasa menahan kebahagiaan yang meruah, jadi maafkanlah kakak jika tindakan yang kakak lakukan membuatmu risih”.

0 komentar:

Posting Komentar